Kita Adalah Batu


Awalnya adalah kesementaraan…

Kepada cemas yang acap membuatmu berdoa dan meninggalkan pesan

Kepada waktu yang kerap memaksamu menggerutu dan berlalu

Kita tak lupa untuk bertanya, pun menyapa
atau sekadar menitipkan kebisuan di ruang-ruang kaca

Awalnya adalah kesementaraan…

Seperti cuaca, kita berusaha membaca namun lupa mengeja

Suatu waktu, akan ada percakapan yang menghapus dan mengekalkan

Sebab segalanya hanya dongeng, pejamkanlah mata, dan kita tak lagi ada

Sebuah sudut, Maret 2014.

Iklan

CARAMU MEMBACAKU


:BI

Aku suka memandangmu dari kejauhan. Memperhatikan caramu membacaku diam-diam.
Setiap malam.

Caramu membacaku begitu sederhana.
Seperti seorang anak kecil yang sedang belajar mengeja kalimat pertamanya.

Sengaja kubiarkan hiraumu mencuri segala rahasia di tubuhku.

Kulihat matamu menangkap, segala yang tak mampu kuucap.
Kudengar bibirmu menggumamkan, beberapa doa yang belum sempat kulantunkan.
Kurasakan dadamu menyusun debar, getar yang mulai tergenap dengan samar.

Dan teruslah kau membacaku. Hingga kata-kataku mampu menampung segala kata-kata yang menetes tenang dari binar matamu.

Sebab, kelak dengan kata-kata, kita akan saling menjaga.

Yogyakarta,
2013.

SEBUAH PESAN UNTUKMU


Selamat malam, Bidadari Tuhan.

Untuk segala cemas-harapmu,
kuingatkan untuk segera menutup pintu dan jendela kamarmu. Kemudian matikan lampu dan nyalakan tenangmu.

Sebab sebaik-baiknya rindu dan harap, ialah yang kau rawat dalam gelap.

Kuharap kau tak lupa berdoa.
Tentang mimpi yang cantik.
Juga tentang pagi yang baik.

Dan untuk segala hal yang belum mampu kau cemaskan, biarlah aku yang berdoa.
Tentang kita.

Yogyakarta,
2013.

RUANG WAKTU


Adalah sebuah ruang yang menyembunyikan ingatan tentang tubuhmu. Sebuah ruang yang penuh kekosongan dan keterasingan: waktu.

Sementara tubuhmu tak berwarna. Tak sanggup menghiraukan apapun selain hitam suara. Matamu yang gelap tak mampu menangkap apapun selain gerak tubuhmu.

Telah kususun kata-kata, yang meminjam warna tubuhmu dan hirau matamu. Kata-kata yang menyimpan seluruh debar dan cemas-harapku.

Tersebab aku hanya perlu sedikit cahaya untuk membuka dan membacanya.

Yogyakarta,
2013.

KETIKA KAU BERDOA


Kata-kataku berjalan tenang
menghampirimu.
mengusap lembut
pipi dan rambutmu
mengecup santun keningmu
lalu berdiam di dalam
sela-sela jemarimu
menampung segala kata
yang mengalir dari bibirmu
membacakan rahasia dari
seluruh doa-doamu

Kelak suatu waktu,
aku tak lagi mampu
membaca kata-katamu,
sebagaimana kau
tak lagi sanggup
mengucap kata-kataku,
ketika segala kata-kataku
telah menyatu dalam
seluruh doa-doamu

Adalah doa-doa
yang menggenapi kita
genap yang akan
terus-menerus kita rawat
dari kekosongan tanda tanya

Yogyakarta,
2013

MERENCANAKAN KETIDAKPASTIAN


: BI

Tak semua hal bisa direncanakan, seperti perjalanan.

Perjalanan sesekali datang tiba-tiba, meski tak pernah merencanakan pertemuan sebelumnya. Kadang begitu menyenangkan, namun tak jarang pula berujung airmata.

Perjalanan adalah ketidakpastian yang selalu kita susun dengan rapi di dalam lemari. Setiap pagi. (Sambil beberapa kali mencatat hal-hal yang ingin kita ingat)

Hingga ketika tak ada lagi tujuan adalah pertanda bahwa kau harus segera menatap ke belakang. Menyusun ingatan.

Dan ketika tak ada lagi cahaya adalah pertanda bahwa aku harus lekas berhenti membaca. Berhitung tanda tanya.

Perjalanan terus-menerus kita catat dan lakukan. Sementara ingatan tak lagi sanggup mengingat kepulangan.

Yogyakarta,
2013.

MERAWAT TANDA TANYA


Kulihat sebuah tanda tanya di kepalamu. Simpanlah, hingga kelak kau menemukan seseorang yang kau percaya untuk merawatnya.

Mungkin, ketika kita bertemu, aku juga sedang menyimpan tanda tanya yang sama.

Kuharap kau mau berbagi tanda tanya denganku. Saling memecahkannya. Bersama-sama.

Atau mungkin membiarkannya tetap pada rahasianya. Sebab tak semua tanda tanya harus dicari jawabnya. Membiarkannya menjelma kekosongan dalam ruang-ruang mimpi. Setiap pagi.

Kelak suatu waktu, kubayangkan kita akan menyimpan tanda tanya dalam ransel masing-masing. Membawanya dalam sebuah perjalanan yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Bersama-sama.

Dan biarlah percakapan-percakapan yang akan merawatnya. Menjaganya dari berbagai keterasingan yang mungkin kita temukan di tengah jalan. Pun bisa kita pergunakan untuk menyapa beberapa kecemasan yang sering mencegat kita di tengah jalan. Tiba-tiba. (dan membuat kita berulangkali berpikir untuk membuangnya di pinggir jalan)

Pada akhirnya, kita memilih untuk tetap membawanya dalam perjalanan. Sebab tanda tanya, yang membuat perjalanan kita tak terasa begitu membosankan.

Dan ketika pulang, menjadi satu-satunya pilihan.

Yogyakarta,
2013.

TENTANG MIMPI DAN KENYATAAN


Kau terlalu sibuk bermimpi tentang apapun. Tentang segala yang telah lama kau bayangkan.
Atau, tentang segala yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.

Mimpi selalu datang tiba-tiba. Tanpa kaurencanakan. Kadang begitu menyenangkan, namun tak jarang ia amat mencemaskan.

Dalam ruang mimpimu, kau sanggup menjadi apapun. Tentang segala sesuatu yang telah lama kau bayangkan. Menjadi diri yang lain seutuhnya. Namun, tidak untuk segala kehilangannya.

Hingga di sebuah pagi kau pun terjaga, dan mendapati dirimu masih sama. Seorang pemimpi yang sekali lagi, terlampau takut
oleh nyala matahari. Begitulah berulangkali.

Namun malam ini, sebelum lampu-lampu telah mati, akan kukatakan tentang sebuah kemungkinan.

“Bahwa mimpi sesekali harus dibangunkan. Dan kenyataan sesekali memang harus ditidurkan.

Tersebab engkau, aku terjaga. Sebab mimpi, tidak akan pernah selesai.

Mondi, Yogyakarta,
2012